Newsroom

Mengenal Blue Carbon untuk Mengatasi Perubahan Iklim

Hyundai Motorstudio Senayan Park 2022.09.02
Mengenal Blue Carbon untuk Mengatasi Perubahan Iklim

Asap karbon dari knalpot kendaraan umumnya dikenal masyarakat berwarna hitam pekat atau putih. Tapi, ternyata ada suatu istilah blue carbon atau karbon biru. Sebenarnya, apa itu karbon biru (blue carbon)?

Jadi, blue carbon atau karbon biru adalah sebuah istilah untuk menyebut karbon yang dihasilkan oleh ekosistem laut dan pesisir pantai. Jenis karbon ini disebut biru karena memang terbentuk di lautan atau di bawah air.

Contoh ekosistem pembentuk karbon biru adalah mangrove, rawa, gambut, terumbu karang, dan fitoplankton yang dapat menghasilkan dan menyimpan karbon biru.

Blue Carbon Sebagai Penyelamat Bumi Dari Bawah Air

Di Indonesia sendiri, karbon biru yang dihasilkan cukup besar. Mengingat hampir 62% total luas negara Indonesia merupakan wilayah maritim atau negara kepulauan.

Adanya hutan bakau di Indonesia dikenal sebagai ekosistem penghasil blue carbon terbesar di dunia, yaitu mencapai 17% dari total karbon biru global.

Selain karbon biru, di planet bumi terdapat beberapa jenis karbon. Masing-masing karbon dibedakan berdasarkan sumbernya.

Terdapat karbon hitam dan karbon cokelat yang dihasilkan oleh emisi gas rumah kaca dan emisi karbon dioksida (CO2). Kedua jenis karbon inilah yang menjadi penyebab perubahan iklim atau pemanasan global.

Sementara itu, terdapat dua jenis karbon lain yang berfungsi sebagai penangkal efek perubahan iklim, yaitu blue carbon (karbon biru) dan green carbon (karbon hijau).

Karbon hijau disimpan atau diserap oleh tanah dan tanaman. Berbagai upaya seperti pelestarian hutan dan menanam ribuan pohon di perkotaan menjadi wujud nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Akan tetapi, sejauh ini kesadaran masyarakat untuk meningkatkan produksi karbon biru dalam mencegah perubahan iklim masih minim. Sangat disayangkan, karena karbon biru mampu menyerap 55% emisi karbon secara global, jauh lebih besar ketimbang penyerapan green carbon di darat.

Blue Carbon Berperan Dalam Penyerapan Efek Gas Rumah Kaca

Blue carbon adalah penyerap alami karbon dioksida yang paling efektif. Hutan hujan tropis, padang rumput sabana, dan hutan kontinental dianggap sebagai sistem biologis penyerap karbon.

Akan tetapi, hutan hanya bisa menyerap karbon di ekosistem sekitarnya. Sementara, karbon biru memainkan peran penting dalam penyerapan dan penyimpanan karbon. Terutama, di ekosistem pesisir, seperti hutan bakau, hutan rawa, rumput laut, lahan gambut, dan lainnya.

Sayangnya, kesadaran akan potensi karbon biru masih sangat minim. Banyak pembangunan hotel atau resort di pesisir yang mengurangi tingkat penyerapan blue carbon.

Berikut adalah beberapa ekosistem karbon biru di wilayah pesisir pantai:

1. Hutan Bakau

Mungkin sulit membayangkan betapa pentingnya peran hutan bakau dalam penyerapan emisi karbon. Padahal, hutan bakau mampu menyerap 6-8 ton setara karbon dioksida per hektar. Sementara, hutan hujan tropis hanya sekitar 2 ton setara karbon dioksida per hektar.

Ini artinya, hutan bakau lebih efektif menyerap karbon secara alami. Hutan tropis banyak dilindungi seperti hutan Amazon, hutan Asia Tenggara, hutan Kalimantan, hutan Afrika Tengah dan lainnya.

Sedangkan, justru hutan bakau banyak yang diabaikan begitu saja. Sementara, bila dipikirkan hutan bakau lebih banyak menyerap karbon. Selain itu, hutan bakau memberikan banyak manfaat yang tak terduga sebelumnya. Contohnya, dapat mencegah erosi pantai, melindungi pesisir dari badai, mengurangi abrasi ombak, dapat dijadikan tempat pembibitan ikan, serta tentunya menyerap emisi karbon rumah kaca.

2. Hutan Rawa

Mirip seperti hutan bakau, hutan rawa adalah ekosistem pesisir yang berperan penting dalam mencegah perubahan iklim. Hutan rawa menjaga kondisi tanah dan sumber air lokal.

Di sisi lain, hutan rawa berada di sekitar aliran pantai atau sungai yang menyaring polutan. Oleh sebab itu, hutan rawa dapat menjaga kualitas air di wilayah pesisir dan berfungsi sebagai ekosistem satwa liar. Misalnya, ikan, kerang, burung camar, dan berbagai fauna lainnya.

Yang terpenting, hutan rawa mampu menyerap karbon hingga 7 ton setara karbon dioksida per hektar.

3. Rumput Laut

Habitat rumput laut adalah ekosistem blue carbon yang kerap diremehkan. Padahal, ada banyak manfaat bagi lingkungan yang tak pernah diduga sebelumnya.

Rumput laut membentang luas di permukaan laut dangkal dan terus tersebar di lingkungan laut. Biasanya, dijumpai di perairan beriklim tropis. Rumput laut membantu menstabilkan kondisi mikroorganisme laut, menyediakan tempat berlindung bagi ikan, serta menjadi sumber makanan bagi mamalia laut seperti ikan duyung dan lembu laut (manatee).

Selain kemampuan menyerap emisi karbon hingga dua kali lipat lebih besar dari hutan tropis, rumput laut mencegah perubahan iklim dengan blue carbon. Populasi rumput laut mungkin hanya 0,2% dasar laut, akan tetapi mampu menyerap hingga 10% karbon di lautan setiap tahun.

Blue Carbon Dan Energi Terbarukan Sebagai Solusi Ramah Lingkungan

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan penyerapan karbon global dengan blue carbon? Hal ini tentunya tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan pemerintah.

Dibutuhkan dukungan dari seluruh masyarakat secara global untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Masyarakat perlu menyadari bahwa ternyata alam memiliki potensi besar untuk menyerap emisi karbon rumah kaca dan mengatasi pemanasan global.

Salah satunya dengan menggabungkan solusi yang ramah lingkungan seperti blue carbon yang bekerja sama dengan pembangkit energi terbarukan. Masa depan yang rendah emisi karbon bukanlah sekadar mimpi.

Inilah saatnya, setiap masyarakat global bekerja sama untuk melestarikan ekosistem pesisir di seluruh dunia agar dapat berperan sebagai pembangkit energi terbarukan. Mencegah eksplorasi dan pembangunan di pesisir yang berlebihan agar ekosistem laut tetap terjaga sebagai penyerap emisi karbon yang maksimal.


TOP